
Membuka barbershop terlihat sederhana. Ada kursi barber, kaca besar, clipper, pomade, lalu pelanggan datang untuk potong rambut.
Namun, membangun bisnis barbershop yang benar-benar bertahan bukan perkara sesederhana itu.
Ada keputusan penting yang harus dibuat sejak awal: franchise barbershop atau brand sendiri?
Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika bisnis grooming pria berkembang dan konsep barbershop semakin beragam.
Konsumen tidak hanya mencari tempat potong rambut.
Mereka juga mempertimbangkan kenyamanan, kualitas layanan, harga, lokasi, suasana, hingga reputasi brand.
Di sinilah calon pengusaha sering berada di persimpangan.
Membangun brand sendiri memberikan kebebasan. Semua keputusan berada di tangan pemilik. Namun, seluruh sistem juga harus dibangun dari nol.
Sebaliknya, franchise menawarkan sistem bisnis yang sudah disiapkan. Tetapi ada aturan, standar operasional, dan ketentuan kerja sama yang harus diikuti.
Lalu, mana yang lebih baik?
Tidak ada jawaban yang sama untuk semua orang. Yang ada adalah pilihan yang paling sesuai dengan kemampuan, pengalaman, modal, dan tujuan bisnis.
Barbershop memiliki karakter bisnis yang berbeda dengan banyak usaha lainnya.
Produk utamanya bukan barang yang dibawa pulang. Produk utamanya adalah layanan.
Rambut akan kembali tumbuh. Pelanggan yang puas berpotensi kembali beberapa minggu kemudian.
Artinya, barbershop memiliki peluang membangun repeat customer.
Namun, peluang tersebut tidak otomatis menjadi keuntungan.
Lokasi yang salah bisa membuat kursi kosong. Barber yang tidak konsisten dapat membuat pelanggan pindah. Pelayanan yang buruk bisa menghancurkan reputasi dalam waktu singkat.
Bahkan, sebuah barbershop dengan interior bagus belum tentu memiliki bisnis yang sehat.
Menurut OSS, aktivitas pangkas rambut masuk dalam KBLI 96111 pada klasifikasi KBLI 2020. Kategorinya mencakup jasa pemangkas dan perawatan rambut, termasuk kumis, jambang, dan jenggot yang umumnya dilakukan untuk konsumen pria seperti pada barbershop.
Pada KBLI 2025, aktivitas penataan dan pangkas rambut diklasifikasikan dalam KBLI 96210.
Artinya, bisnis ini bukan sekadar tren gaya hidup. Ia merupakan aktivitas usaha yang memiliki klasifikasi resmi dalam sistem kegiatan ekonomi Indonesia.
Ketika membandingkan franchise barbershop atau brand sendiri, hal pertama yang perlu dipahami adalah perbedaan cara membangun bisnis.
Brand sendiri dimulai dari nol.
Pemilik menentukan nama. Membuat logo. Menentukan konsep interior. Mencari barber. Menentukan harga. Membuat SOP. Mengembangkan pemasaran. Membangun reputasi.
Sementara itu, franchise menggunakan sistem yang sudah dikembangkan oleh pemilik brand.
Dalam praktiknya, calon mitra biasanya mendapatkan berbagai bentuk dukungan seperti pelatihan, SOP, desain outlet, sistem operasional, pemasaran, hingga pendampingan pembukaan. Namun, bentuk dukungan tersebut berbeda pada setiap brand.
Jadi, jangan hanya bertanya, “Berapa biaya franchise?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang sebenarnya didapatkan?”
Data industri memberikan gambaran bahwa model waralaba memiliki skala ekonomi yang cukup besar di Indonesia.
Berikut beberapa data yang relevan:
| Indikator | Data |
|---|---|
| Omzet industri waralaba Indonesia 2024 | Rp143,25 triliun |
| Tenaga kerja yang terserap 2024 | 97.872 orang |
| Gerai yang dikelola sendiri | 34.503 unit |
| Gerai yang diwaralabakan | 13.786 unit |
| STPW pemberi waralaba dalam negeri per 9 Agustus 2024 | 151 |
| STPW pemberi waralaba luar negeri per 9 Agustus 2024 | 145 |
| Pertumbuhan waralaba 2024 dibanding tahun sebelumnya | 5% |
| Porsi F&B dalam bidang waralaba | 48,34% |
| Porsi jasa kecantikan dan kesehatan | 11,26% |
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan industri waralaba Indonesia pada 2024 mencapai omzet Rp143,25 triliun dan menyerap 97.872 tenaga kerja. Pada periode tersebut terdapat 34.503 gerai yang dikelola sendiri dan 13.786 gerai yang diwaralabakan.
Sementara itu, data Kemendag per 9 Agustus 2024 mencatat 151 STPW untuk pemberi waralaba dalam negeri dan 145 STPW untuk pemberi waralaba luar negeri.
Angka tersebut bukan berarti semua franchise pasti menguntungkan.
Justru sebaliknya.
Data tersebut menunjukkan bahwa pasar waralaba cukup besar, tetapi calon mitra tetap harus melakukan seleksi.
Pilihan franchise barbershop atau brand sendiri sering kali dipengaruhi oleh keinginan untuk memiliki kebebasan.
Dan brand sendiri memang menawarkan kebebasan yang lebih besar.
Pemilik bisa menentukan hampir seluruh elemen bisnis.
Mulai dari nama, logo, warna, desain interior, seragam barber, harga layanan hingga konsep promosi.
Ingin membuat barbershop bergaya industrial?
Bisa.
Ingin konsep premium?
Bisa.
Ingin menyasar segmen mahasiswa?
Bisa.
Tidak ada brand owner yang harus memberikan persetujuan.
Pemilik memiliki kontrol penuh terhadap operasional.
Jika ingin mengubah harga, layanan atau sistem membership, keputusan dapat dilakukan secara internal.
Hal ini menarik bagi pengusaha yang sudah memiliki pengalaman dalam industri barbershop.
Jika brand berhasil berkembang, nama brand tersebut sendiri menjadi aset.
Bukan hanya outlet.
Brand dapat dikembangkan menjadi beberapa cabang, produk grooming, membership, layanan tambahan atau bahkan sistem franchise sendiri.
Inilah salah satu alasan mengapa sebagian pengusaha lebih tertarik membangun brand dari nol.
Namun, ada harga yang harus dibayar.
Kebebasan berarti tanggung jawab.
Dalam pembahasan franchise barbershop atau brand sendiri, bagian ini sering dilupakan.
Brand sendiri memang bebas.
Tetapi pemilik harus menjadi banyak orang sekaligus.
Hari ini menjadi pemilik bisnis.
Besok menjadi marketing.
Lusa mengurus rekrutmen.
Kemudian memikirkan SOP.
Belum selesai, harus mengurus konten media sosial.
Masalahnya bukan sekadar banyak pekerjaan.
Masalah sebenarnya adalah proses trial and error.
Pemilik mungkin harus mencoba berbagai strategi sebelum menemukan formula yang tepat. Misalnya:
Semua harus dijawab sendiri.
Kesalahan pada tahap awal juga bisa mahal.
Salah memilih lokasi misalnya.
Outlet sudah direnovasi. Peralatan sudah dibeli. Barber sudah direkrut.
Tetapi pelanggan tidak cukup banyak.
Bisnis akhirnya harus berjuang sebelum mencapai titik impas.
Di sisi lain, franchise barbershop atau brand sendiri menawarkan pertimbangan berbeda.
Franchise pada dasarnya mencoba mengurangi sebagian proses trial and error tersebut.
Calon mitra membeli hak untuk menjalankan bisnis menggunakan brand dan sistem tertentu sesuai perjanjian.
Artinya, yang dibeli bukan hanya nama.
Ada sistem di belakang nama tersebut.
Membangun awareness dari nol membutuhkan waktu.
Brand franchise yang sudah dikenal dapat memberikan titik awal yang berbeda.
Ketika melihat logo tertentu, calon pelanggan mungkin sudah memiliki ekspektasi mengenai kualitas, harga, atau pengalaman layanan.
Itulah nilai brand.
Namun, tingkat pengenalan setiap franchise tentu berbeda.
Karena itu, calon mitra harus melihat data aktual, bukan sekadar klaim promosi.
Salah satu alasan orang memilih franchise adalah sistem.
SOP dapat membantu menentukan bagaimana outlet harus berjalan.
Mulai dari pembukaan toko, pelayanan pelanggan, kebersihan, standar haircut, penggunaan produk, hingga pelaporan.
Ini sangat penting bagi orang yang belum pernah menjalankan bisnis barbershop.
Beberapa franchise menyediakan pelatihan untuk pemilik maupun karyawan.
Dukungan semacam ini dapat mempercepat proses belajar.
Tetapi calon mitra harus membaca detail kerja sama.
Apakah training hanya sekali?
Apakah ada pendampingan setelah opening?
Apakah ada evaluasi berkala?
Apakah tim pusat membantu ketika outlet mengalami masalah?
Pertanyaan seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar melihat brosur.
Franchise bukan tiket otomatis menuju keuntungan.
Ini bagian penting ketika membandingkan franchise barbershop atau brand sendiri.
Ada biaya kerja sama. Ada standar brand. Ada ketentuan operasional.
Pada beberapa model, bisa terdapat royalty fee, marketing fee atau biaya lain sesuai perjanjian.
Karena itu, calon mitra harus menghitung keseluruhan struktur biaya.
Bukan hanya biaya awal.
Perhatikan juga:
Pertanyaan paling penting bukan “berapa harga paketnya?”
Melainkan:
“Setelah seluruh biaya dibayar, apakah model bisnisnya masih masuk akal?”
Brand sendiri jelas lebih fleksibel.
Pemilik dapat mengubah konsep kapan saja.
Namun, fleksibilitas tidak selalu berarti lebih mudah.
Bayangkan dua pengusaha.
Pengusaha pertama memiliki pengalaman lima tahun mengelola barbershop. Ia memahami barber, pelanggan, lokasi, pricing, dan marketing.
Pengusaha kedua baru pertama kali masuk bisnis grooming.
Apakah keduanya membutuhkan pendekatan yang sama?
Tentu tidak.
Pengusaha pertama mungkin lebih siap membangun brand sendiri.
Pengusaha kedua mungkin lebih terbantu dengan sistem yang sudah tersedia.
Inilah mengapa pertanyaan franchise barbershop atau brand sendiri seharusnya tidak dijawab berdasarkan tren.
Jawabannya harus berdasarkan kesiapan.
Dalam banyak kasus, franchise berpotensi mempercepat tahap persiapan.
Mengapa?
Karena beberapa elemen sudah tersedia.
Brand sudah ada.
SOP sudah dikembangkan.
Konsep outlet sudah ditentukan.
Materi marketing mungkin sudah tersedia.
Pelatihan juga dapat disiapkan.
Tetapi cepat bukan berarti pasti berhasil.
Lokasi tetap penting.
SDM tetap penting.
Kualitas pelayanan tetap penting.
Marketing tetap penting.
Bahkan brand yang kuat pun bisa mengalami masalah apabila outlet berada di lokasi yang tidak sesuai dengan target pelanggan.
Kesalahan umum calon pengusaha adalah membuat perbandingan seperti ini:
“Brand A Rp150 juta. Brand B Rp200 juta. Brand A lebih murah.”
Selesai.
Padahal belum tentu.
Harga paket harus dilihat bersama isi paket.
Misalnya, satu paket menyediakan peralatan lengkap, desain interior, training, SOP dan pendampingan.
Paket lain mungkin hanya memberikan hak penggunaan brand.
Angka awalnya memang terlihat lebih murah.
Namun, kebutuhan tambahan justru bisa membuat biaya akhir lebih besar.
Karena itu, ketika membandingkan franchise barbershop atau brand sendiri, buatlah tabel kebutuhan yang realistis.
| Komponen | Brand Sendiri | Franchise |
| Nama dan identitas brand | Dibangun sendiri | Menggunakan brand franchise |
| SOP | Dibuat sendiri | Umumnya sudah tersedia |
| Training | Dicari sendiri | Dapat disediakan sesuai paket |
| Desain outlet | Bebas | Mengikuti standar brand |
| Marketing | Dibangun sendiri | Dapat didukung pusat |
| Trial and error | Lebih tinggi | Dapat ditekan dengan sistem |
| Fleksibilitas | Sangat tinggi | Mengikuti perjanjian |
| Pengembangan brand | Milik sendiri | Mengikuti sistem brand |
| Dukungan pusat | Tidak ada | Bergantung pada franchisor |
Tabel tersebut bukan ukuran mutlak.
Setiap brand memiliki model berbeda.
Karena itu, prospektus dan perjanjian harus dibaca sebelum mengambil keputusan.Bisnis franchise memiliki aspek legal yang harus diperhatikan.
Pemerintah telah menerbitkan PP Nomor 35 Tahun 2024 tentang Waralaba. Peraturan ini menggantikan PP Nomor 42 Tahun 2007 dan mengatur antara lain kriteria waralaba, prospektus penawaran, perjanjian, STPW, hak dan kewajiban para pihak, pembinaan, pengawasan, serta sanksi.
PP tersebut juga mengatur kewajiban STPW bagi penyelenggara waralaba sesuai ketentuan yang berlaku.
Karena itu, calon mitra sebaiknya tidak terburu-buru membayar hanya karena melihat promosi.
Kemendag juga mengingatkan masyarakat untuk memilih perusahaan yang terdaftar dan memiliki izin atau STPW serta menghindari penawaran yang terlalu berlebihan.
Brand sendiri lebih cocok bagi pengusaha yang:
Ada kepuasan tersendiri ketika melihat nama yang dibuat sendiri tumbuh menjadi sebuah bisnis.
Namun, prosesnya membutuhkan kesabaran.
Sementara itu, franchise dapat menjadi pilihan menarik bagi calon pengusaha yang:
Namun, tetap diperlukan kemampuan mengelola outlet.
Franchise bukan bisnis autopilot.
Pemilik tetap harus memperhatikan karyawan, pelanggan, biaya, lokasi, kualitas layanan dan pemasaran.
Pada akhirnya, pertanyaan franchise barbershop atau brand sendiri bukan tentang mana yang paling hebat.
Pertanyaannya adalah mana yang paling sesuai.
Jika memiliki pengalaman kuat, tim solid, kemampuan branding dan kesabaran membangun sistem dari nol, brand sendiri bisa menjadi pilihan.
Jika ingin memulai dengan sistem yang lebih terstruktur dan membutuhkan dukungan brand, franchise bisa menjadi alternatif.
Yang perlu dihindari adalah memilih hanya karena terlihat mudah.
Jangan membeli franchise hanya karena melihat outlet yang ramai.
Jangan pula membuat brand sendiri hanya karena ingin bebas.
Bisnis bukan tentang siapa yang paling bebas.
Bisnis adalah tentang siapa yang paling mampu mengelola keputusan.
Perdebatan franchise barbershop atau brand sendiri sebenarnya menggambarkan dua filosofi bisnis.
Brand sendiri menawarkan kebebasan, kreativitas, dan kepemilikan penuh terhadap brand. Tetapi konsekuensinya adalah proses membangun sistem, reputasi, SDM, dan pemasaran harus dilakukan dari awal.
Franchise menawarkan sistem, brand, dan dukungan yang berpotensi mempercepat proses. Tetapi ada biaya, aturan, dan ketergantungan tertentu kepada pemilik brand.
Jadi, franchise barbershop atau brand sendiri bukan sekadar pilihan antara murah dan mahal.
Ini adalah pilihan antara membangun dari nol atau menggunakan sistem yang sudah dikembangkan.
Sebelum mengambil keputusan, hitung kemampuan finansial. Pelajari lokasi. Analisis target pelanggan. Periksa legalitas. Baca perjanjian. Tanyakan dukungan setelah outlet dibuka.
Dan yang tidak kalah penting, jangan hanya bertanya berapa besar potensi omzet.
Tanyakan juga:
“Apakah saya mampu menjalankan bisnis ini ketika kondisi tidak sesuai rencana?”
Jika pilihan akhirnya jatuh pada model franchise, salah satu brand yang dapat dipertimbangkan adalah Planet Barbershop, yang hadir dengan konsep kemitraan untuk membantu calon pengusaha memasuki bisnis barbershop dengan brand dan sistem yang lebih terstruktur.
Pada akhirnya, pilihan terbaik bukanlah brand yang paling sering terlihat, melainkan model bisnis yang paling masuk akal untuk dijalankan secara konsisten dan jangka panjang.
Copyright © 2027 Franchise Barbershop Terbaik di Indonesia