Jangan Buru-Buru Beli Franchise Barbershop Sebelum Cek 7 Hal Ini

Konsultasi via WhatsApp
Beli Franchise Barbershop

Melihat barbershop ramai memang menyenangkan.

Kursi terisi. Barber sibuk bekerja. Pelanggan datang silih berganti. Media sosial dipenuhi foto outlet yang terlihat modern.

Dari luar, bisnis tersebut tampak sederhana.

Lalu muncul satu pikiran: beli franchise barbershop, buka outlet, rekrut barber, dan mulai menghasilkan.

Tunggu dulu.

Justru di titik inilah calon pengusaha perlu berhenti sejenak.

Bisnis yang terlihat ramai belum tentu memiliki model bisnis yang sehat. Brand yang terlihat besar belum tentu cocok dengan lokasi yang dipilih. Paket franchise yang terlihat lengkap belum tentu mencakup semua kebutuhan operasional.

Pertanyaannya bukan sekadar, “Berapa harga franchise-nya?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang sebenarnya sedang dibeli?”

Calon mitra tidak hanya membeli nama. Ada sistem, reputasi, hak penggunaan brand, standar operasional, dukungan, kewajiban, dan risiko yang ikut masuk ke dalam keputusan.

Karena itu, sebelum beli franchise barbershop, ada setidaknya tujuh hal yang perlu diperiksa secara serius.

Mengapa Tidak Boleh Terburu-Buru?

Industri waralaba Indonesia memang memiliki skala yang besar.

Kementerian Perdagangan mencatat industri waralaba pada 2024 mencapai omzet Rp143,25 triliun dan menyerap 97.872 tenaga kerja. Pada tahun yang sama terdapat 34.503 gerai yang dikelola sendiri dan 13.786 gerai yang diwaralabakan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa model waralaba memiliki pasar yang serius.

Namun, besarnya industri tidak berarti setiap tawaran franchise otomatis menarik.

Ada perbedaan besar antara industri yang tumbuh dan satu outlet yang menguntungkan.

Itulah sebabnya keputusan untuk beli franchise barbershop harus dimulai dengan pemeriksaan, bukan dengan emosi.

Kemendag sendiri pernah mengingatkan calon pelaku usaha menggunakan prinsip 2L: Legal dan Logis sebelum mengambil keputusan bisnis atau investasi.

Dua kata tersebut sederhana.

Tetapi dampaknya besar.

Tabel Statistik Waralaba Indonesia

Berikut beberapa data yang dapat menjadi konteks sebelum mengambil keputusan:

Indikator Data
Omzet industri waralaba Indonesia 2024 Rp143,25 triliun
Tenaga kerja terserap 2024 97.872 orang
Gerai dikelola sendiri 34.503 unit
Gerai diwaralabakan 13.786 unit
Pertumbuhan waralaba 2024 5%
STPW pemberi waralaba dalam negeri per 9 Agustus 2024 151
STPW pemberi waralaba luar negeri per 9 Agustus 2024 145
Porsi F&B dalam waralaba 48,34%
Porsi jasa kecantikan dan kesehatan 11,26%

Data Kemendag per Agustus 2024 menunjukkan terdapat 151 STPW untuk pemberi waralaba dalam negeri dan 145 untuk pemberi waralaba luar negeri. Pertumbuhan waralaba saat itu tercatat 5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Jadi, peluang memang ada.

Tetapi peluang harus dibaca bersama risiko.

Dan bagi calon mitra, pemeriksaan tujuh hal berikut jauh lebih penting daripada sekadar melihat jumlah outlet.

1. Cek Apakah Bisnisnya Benar-Benar Sudah Teruji

Ini adalah pemeriksaan pertama sebelum beli franchise barbershop.

Jangan langsung bertanya berapa banyak paket yang sudah terjual.

Tanyakan berapa lama brand tersebut menjalankan bisnisnya sendiri.

Mengapa?

Karena franchise yang sehat seharusnya lahir dari bisnis yang sudah memiliki pengalaman operasional.

Ada perbedaan antara bisnis yang berhasil mengelola satu outlet dengan bisnis yang baru menjual konsep franchise.

Konsep bisa dibuat dalam beberapa minggu.

Sistem yang matang membutuhkan waktu.

Apa yang Perlu Ditanyakan?

Coba minta informasi mengenai:

  • kapan outlet pertama berdiri;
  • berapa lama bisnis berjalan sebelum diwaralabakan;
  • berapa outlet milik sendiri;
  • berapa outlet milik mitra;
  • berapa outlet yang masih aktif;
  • apakah pernah ada outlet yang tutup;
  • alasan outlet berhenti beroperasi;
  • bagaimana sistem evaluasi outlet.

Pertanyaan terakhir sering kali justru paling menarik.

Apakah franchisor berani membicarakan outlet yang gagal?

Jika semua presentasi hanya berisi kisah sukses, calon mitra justru perlu bertanya lebih dalam.

Bisnis yang sehat tidak selalu memiliki cerita sempurna.

Yang penting adalah bagaimana masalah tersebut ditangani.

2. Periksa Legalitas dan Status Waralaba

Hal kedua sangat sederhana.

Namun, jangan sampai dilewatkan ketika hendak beli franchise barbershop.

Saat ini Indonesia memiliki PP Nomor 35 Tahun 2024 tentang Waralaba. Regulasi tersebut mengatur antara lain kriteria waralaba, prospektus penawaran, perjanjian, STPW, hak dan kewajiban para pihak, hingga pembinaan dan pengawasan. Peraturan ini berlaku sejak 2 September 2024 dan mencabut PP Nomor 42 Tahun 2007.

PP 35/2024 juga mengatur kewajiban STPW bagi pemberi maupun penerima waralaba sesuai ketentuan yang berlaku.

Artinya, calon mitra jangan hanya melihat logo.

Jangan hanya melihat sertifikat.

Jangan hanya percaya pada kalimat “sudah legal”.

Periksa dokumennya.

Prinsip Sederhana: Legal Dulu

Sebelum menandatangani kerja sama, periksa:

  • legalitas badan usaha;
  • merek dan status kekayaan intelektual;
  • status STPW;
  • prospektus penawaran waralaba;
  • perjanjian waralaba;
  • identitas pemberi waralaba;
  • hak dan kewajiban masing-masing pihak.

Kemendag juga menyarankan masyarakat memilih perusahaan yang terdaftar dan memiliki izin atau STPW serta tidak terburu-buru membayar karena promosi yang berlebihan.

Jadi, jika diminta beli franchise barbershop dalam waktu sangat singkat karena alasan “promo hari ini saja”, justru saat itulah keputusan perlu diperlambat.

3. Bongkar Isi Paket Franchise

Ini bagian yang sering membuat calon mitra keliru.

Harga paket terlihat jelas.

Isi paketnya tidak.

Misalnya ada paket yang disebut “lengkap”.

Lengkap menurut siapa?

Apakah sudah termasuk renovasi?

Apakah peralatan barber masuk?

Bagaimana dengan signage?

Apakah POS termasuk?

Bagaimana dengan training?

Apakah seragam dan perlengkapan kerja termasuk?

Bagaimana dengan marketing pembukaan?

Jangan berasumsi.

Tulis semuanya.

Buat Daftar Isi Paket

Sebelum beli franchise barbershop, minta rincian tertulis mengenai:

  • hak penggunaan merek;
  • desain dan standar outlet;
  • peralatan barber;
  • furniture;
  • perlengkapan operasional;
  • sistem kasir;
  • software atau aplikasi;
  • training;
  • SOP;
  • seragam;
  • materi promosi;
  • opening support;
  • pendampingan pasca-opening;
  • bahan atau produk awal;
  • biaya lainnya.

Dengan cara ini, calon mitra dapat membandingkan dua franchise secara lebih objektif.

Bukan berdasarkan harga.

Tetapi berdasarkan value.

Paket RpX belum tentu mahal.

Paket RpY belum tentu murah.

Semuanya tergantung apa yang diterima dan apa yang masih harus dikeluarkan.

4. Hitung Biaya Setelah Outlet Dibuka

Inilah kesalahan yang sangat sering terjadi.

Calon mitra fokus pada biaya awal.

Padahal bisnis baru benar-benar diuji setelah pintu outlet dibuka.

Saat itulah biaya berjalan mulai muncul setiap bulan.

Ketika hendak beli franchise barbershop, jangan hanya membuat perhitungan “modal awal”.

Buat simulasi setidaknya untuk enam sampai dua belas bulan pertama.

Biaya yang Harus Dihitung

Perhitungkan:

  • sewa lokasi;
  • gaji barber;
  • insentif atau komisi;
  • listrik;
  • air;
  • internet;
  • produk hair care;
  • perlengkapan habis pakai;
  • kebersihan;
  • maintenance;
  • pemasaran;
  • biaya administrasi;
  • pajak;
  • royalty atau fee lain jika terdapat dalam perjanjian.

Kemudian buat tiga skenario.

Skenario optimistis.

Pelanggan sesuai target atau lebih tinggi.

Skenario moderat.

Pelanggan tumbuh secara bertahap.

Skenario konservatif.

Outlet membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan pelanggan.

Mengapa harus tiga?

Karena bisnis tidak selalu berjalan sesuai presentasi.

Justru kemampuan bertahan pada skenario konservatif yang perlu diuji.

5. Jangan Abaikan Lokasi

Brand kuat bukan berarti semua lokasi cocok.

Ini salah satu prinsip penting ketika akan beli franchise barbershop.

Bayangkan sebuah brand sangat populer di pusat kota.

Kemudian outlet dibuka di kawasan dengan karakter pelanggan berbeda.

Harga layanan tidak sesuai.

Akses sulit.

Parkir terbatas.

Kompetitor terlalu dekat.

Lalu penjualan tidak mencapai target.

Apakah masalahnya selalu brand?

Belum tentu.

Bisa jadi lokasinya.

Apa yang Perlu Dianalisis?

Sebelum memilih tempat, lihat:

  • jumlah penduduk sekitar;
  • karakter demografi;
  • daya beli;
  • kepadatan kendaraan;
  • visibilitas lokasi;
  • akses masuk;
  • area parkir;
  • kompetitor;
  • pusat aktivitas masyarakat;
  • jarak dari kampus atau perkantoran;
  • potensi pelanggan berulang.

Jangan hanya melihat lokasi dari Google Maps.

Datang langsung.

Pagi hari.

Siang hari.

Malam hari.

Amati.

Siapa yang lewat?

Apakah jalan ramai?

Apakah orang mudah melihat outlet?

Apakah kendaraan mudah berhenti?

Pertanyaan sederhana tersebut kadang lebih berharga daripada presentasi puluhan halaman.

6. Periksa Sistem SDM dan Barber

Barbershop adalah bisnis jasa.

Artinya, manusia berada di tengah-tengah bisnis.

Mesin tidak akan menyapa pelanggan.

Interior tidak akan melakukan haircut.

Logo tidak akan memberikan pelayanan.

Barber yang melakukannya.

Karena itu, sebelum beli franchise barbershop, periksa bagaimana franchisor menangani sumber daya manusia.

Apakah ada training?

Bagaimana standar haircut?

Apakah ada modul pelayanan?

Bagaimana proses rekrutmen?

Apakah pemilik mendapatkan bantuan mencari barber?

Bagaimana sistem evaluasinya?

Mengapa Barber Sangat Penting?

Bayangkan seorang pelanggan mendapatkan pengalaman yang sangat baik.

Ia kemudian datang kembali.

Tetapi barber favoritnya sudah keluar.

Kualitas pelayanan berubah.

Pelanggan kecewa.

Ia mungkin mencari tempat lain.

Inilah alasan sistem SDM harus menjadi bagian dari penilaian franchise.

Bukan sekadar bonus.

Bukan sekadar training satu kali.

Yang dicari adalah sistem yang dapat menjaga konsistensi.

7. Baca Perjanjian Sampai Detail Terkecil

Terakhir, jangan pernah menganggap kontrak sebagai formalitas.

Justru kontrak adalah salah satu dokumen paling penting sebelum beli franchise barbershop.

Jangan hanya membaca bagian yang menjelaskan keuntungan.

Baca juga bagian yang menjelaskan kewajiban.

Berapa lama masa kerja sama?

Apa yang terjadi jika ingin berhenti?

Apakah outlet boleh dipindahkan?

Bagaimana jika penjualan tidak sesuai harapan?

Apakah ada biaya perpanjangan?

Apakah terdapat kewajiban pembelian bahan tertentu?

Bagaimana aturan penggunaan merek?

Apakah ada wilayah eksklusif?

Bagaimana mekanisme penyelesaian sengketa?

Pertanyaan seperti ini memang terasa tidak nyaman.

Tetapi lebih baik tidak nyaman sebelum tanda tangan daripada menyesal setelahnya.

Jangan Terjebak Oleh Angka Omzet

Satu angka sering menjadi pusat perhatian dalam presentasi bisnis.

Omzet.

“Outlet ini bisa menghasilkan sekian juta per bulan.”

Menarik.

Tetapi omzet bukan keuntungan.

Jika omzet Rp100 juta, berapa biaya operasionalnya?

Jika omzet Rp100 juta, berapa laba bersihnya?

Berapa biaya sewa?

Berapa biaya SDM?

Berapa biaya bahan?

Berapa biaya marketing?

Berapa biaya lainnya?

Baru setelah itu angka tersebut memiliki arti.

Karena itu, ketika beli franchise barbershop, jangan hanya meminta simulasi omzet.

Mintalah simulasi biaya dan laba.

Lebih baik lagi jika calon mitra memahami dasar perhitungannya.

Jangan Hanya Bertanya kepada Franchisor

Ada satu langkah yang sering dilupakan.

Berbicara dengan mitra yang sudah menjalankan outlet.

Bukan satu orang.

Jika memungkinkan, berbicaralah dengan beberapa mitra.

Tanyakan pengalaman mereka secara langsung.

Pertanyaan untuk Mitra Existing

Misalnya:

  • Apakah dukungan pusat benar-benar berjalan?
  • Apakah training membantu?
  • Apakah marketing dari pusat efektif?
  • Bagaimana komunikasi dengan tim pusat?
  • Apakah ada biaya tambahan?
  • Bagaimana kualitas bahan dan peralatan?
  • Apa masalah terbesar selama menjalankan outlet?
  • Apakah keputusan memilih franchise ini sesuai harapan?

Jawaban mereka bisa memberikan perspektif yang berbeda.

Presentasi menjelaskan bagaimana sistem seharusnya berjalan.

Mitra existing dapat menunjukkan bagaimana sistem benar-benar berjalan.

Keduanya penting.

Checklist Sebelum Membeli Franchise Barbershop

Sebelum uang berpindah tangan, lakukan pemeriksaan sederhana berikut:

Beli Franchise Barbershop dengan Prinsip 2L: Legal dan Logis

Ada satu cara sederhana untuk menyaring tawaran bisnis.

Gunakan dua pertanyaan.

Legal?

Apakah dokumennya jelas?

Apakah status waralabanya dapat diperiksa?

Apakah perjanjian transparan?

Kemudian:

Logis?

Apakah proyeksi penjualan masuk akal?

Apakah biaya operasional realistis?

Apakah lokasi mendukung?

Apakah bisnis tetap mampu bertahan jika penjualan tidak langsung tinggi?

Kemendag secara eksplisit mendorong calon pelaku usaha menggunakan prinsip Legal dan Logis dalam memahami bisnis atau investasi waralaba.

Keduanya harus berjalan bersama.

Legal tetapi tidak logis?

Tetap perlu dipikirkan ulang.

Logis tetapi legalitasnya bermasalah?

Lebih baik mundur.

Franchise yang Baik Bukan yang Paling Banyak Janji

Pada akhirnya, calon mitra tidak membutuhkan janji yang terlalu besar.

Yang dibutuhkan adalah informasi yang jelas.

Sistem yang dapat dijelaskan.

Biaya yang transparan.

Kontrak yang dapat dipahami.

Dukungan yang nyata.

Dan model bisnis yang masuk akal.

Inilah perbedaan antara membeli sebuah paket usaha dengan membangun bisnis.

Ketika seseorang beli franchise barbershop, yang seharusnya dicari bukan sekadar “paket paling lengkap”.

Yang dicari adalah sistem yang mampu membantu bisnis berjalan secara konsisten.

Karena setelah acara grand opening selesai, lampu promosi dimatikan, dan foto di media sosial mulai tenggelam, bisnis sebenarnya baru dimulai.

Kesimpulan

Keputusan untuk beli franchise barbershop seharusnya tidak dibuat hanya karena melihat outlet ramai atau melihat sebuah brand terlihat populer.

Periksa tujuh hal.

Mulai dari rekam jejak bisnis, legalitas, isi paket, biaya operasional, lokasi, sistem SDM, hingga isi perjanjian.

Jangan takut bertanya.

Jangan malu meminta dokumen.

Jangan merasa tidak enak melakukan perhitungan.

Justru calon pengusaha yang serius adalah mereka yang berani mengatakan, “Saya ingin memahami semuanya sebelum mengambil keputusan.”

Sebab franchise bukan jalan pintas untuk menghilangkan risiko.

Franchise adalah cara untuk memasuki bisnis dengan sistem tertentu. Risiko tetap ada. Tantangan tetap ada. Dan keberhasilan tetap membutuhkan pengelolaan yang disiplin.

Jika setelah melakukan pemeriksaan tersebut model bisnisnya terasa masuk akal, barulah keputusan menjadi lebih rasional.

Salah satu brand yang dapat menjadi pertimbangan adalah Planet Barbershop, yang hadir dengan konsep kemitraan dan sistem bisnis barbershop yang ditujukan untuk membantu mitra membangun usaha dengan pendekatan yang lebih terstruktur.

Pada akhirnya, franchise barbershop terbaik bukan hanya yang terlihat menarik dari luar, tetapi yang mampu menjelaskan bisnisnya secara transparan, memberikan sistem yang jelas, dan membuat calon mitra memahami apa yang akan dijalankan sebelum benar-benar memutuskan untuk melangkah.

Share This :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Brand Kuat. Sistem Hebat. Bisnis Melesat. Saatnya Naik Level.

Kantor Pusat

Jam Operasional

Kirim Email

Copyright © 2027 Franchise Barbershop Terbaik di Indonesia